![]() |
| LWP-PBNU Gelar Webinar Series Wakaf Uang |
JAKARTA, Siang ini (17/12/2022) Lembaga Wakaf dan Pertanahan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LWP-PBNU) menggelar webinar wakaf uang dengan tema: “Menumbuhkan DAUN (Dana Abadi Ummat Nahdliyyin): Upaya Menggerakkan Wakaf Uang”. Acara ini merupakan rangkaian webinar yang diselenggarakan LWP-PBNU dalam menyongsong Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU).
Acara webinar ini menghadirkan pembicara Ahmad Juwaini (Direktur Keuangan Sosial Syariah KNEKS), Dr. Tatang Astarudin (Komisioner BWI), dan Anas Nasikhin, M.Si (LWP-PBNU).
Dalam sambutan mengawali acara, H. Mardini, selaku Ketua LWP-PBNU menyampaikan tentang pentingnya Dana Abadi Ummat Nahdliyyin (DAUN). Menurut H. Mardini, DAUN memiliki urgensi sangat besar bagi masyarakat secara luas. Sekecil apapun dana yang terkumpul dari warga NU jika konsisten dipraktekkan oleh jumlah warga NU yang sangat besar, tentu akan terakumulasi jumlah dana yang sangat besar.
“DAUN ini sangat penting bagi masyarakat secara luas. Mari kita galang dan kumpulkan DAUN ini secara maksimal. Tidak usah muluk-muluk jumlah uang yang diwakafkan. Cukup Rp 10.000,- bagi warga NU. Jumlah ini mungkin kecil, tapi jika dilakukan oleh warga NU yang jumlahnya kurang lebih 50-60% dari populasi masyarakat Indonesia, maka akan sangat besar”.
Sementara itu, dalam paparannya, Ahmad Juwaini menyampaikan potensi penggerakan wakaf uang sebagai sumber daya Abadi Umat Nahdliyyin. Menurutnya, Potensi penggerakkan wakaf di lingkungan NU sangat besar. Pasalnya jumlah warga NU merupakan mayoritas dari penduduk di Indonesia. Dalam catatan Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (RMI), jumlah pesantren di Indonesia berjumlah 27.342 dengan jumlah warga NU sebanyak 90 juta lebih. Angka ini tentu memiliki potensi yang sangat besar bagi penggerakan wakaf di NU.
“Data yang kita peroleh dari RMI, jumlah pesantren NU di Indonesia berjumlah 27.342, sedangkan Muhammaadiyah hanya 380. Jumlah pesantren ini berbanding lurus dengan jumlah warga NU yang mencapai 90 juta lebih. Angka yang sangat besar bagi jumlah anggota suatu organisasi. Tentunya jika jumlah ini kita maksimalkan dan optimalisasikan pada aspek wakaf, maka jumlah dana yang dapat terkumpul mencapai angka miliayan bahkan triliyunan”, tegas pak Juwaini, panggilan akrabnya.
Sedangkan Dr. Tatang dalam paparannya menekankan transformasi aset-aset yang dimiliki NU menjadi real asset dan real power. Asset intangible (aset tak berwujud) dan asset tangibel (aset berwujud) yang dimiliki NU harus bergerak menuju real asset yang dikelola secara produktif untuk kepentingan masyarakat secara luas.
“Wakaf bukan hal baru bagi warga NU. Yang peru dikembangkan adalah NU perlu melakukan reaktualisasi makna dan tata kelola aset wakaf, terutama yang terkait dengan pemanfaatan ekosistem digital, khususnya dalam gerakan wakaf uang NU”, tegas Tatang.
Webinar ini ditutup dengan paparan Anas Nasikhin dari LWP-PBNU bahwa filosofis DAUN dapat diterjemahkan sebagai analogi fotosintesis pada sebuah daun yaitu suatu proses pembentukan energi yang terbentuk dari sinar matahari dan kemudian disalurkan ke seluruh jaringan tumbuhan. Harapannya, dengan adanya DAUN ini akan memberikan manfaat yang luas dari ummat Nahdliyyin dan kemanfaatannya dapat dirasakan bagi masyarakat Indonesia secara umum. Anas juga menambahkan bahwa kegiatan webinar ini merupakan serangkaian webinar series yang akan diselengarakan oleh LWP-PBNU dalam rangka menggerakkan wakaf uang dan wakaf melalui uang. Kedepannya LWP-PBNU akan melakukan acara ini secara massif di daerah-daerah di Indonesia dengan melalui kampanye penggalangan Dana Wakaf Uang dalam rangka berpartisipasi menyongsong pagelaran Satu Abad NU
